Bojonegoro, mediainfopol.com

Di tengah musim kemarau yang semakin ekstrem, petani tembakau di Kabupaten Bojonegoro berharap harga jual tembakau pada musim panen tahun 2026 tetap stabil. Harapan itu muncul karena biaya perawatan yang terus meningkat, sementara tanaman harus menghadapi cuaca panas berkepanjangan serta serangan hama dan penyakit.

 

Gunadi, petani tembakau asal Desa Mayang Kawis, Kecamatan Balen, mengatakan kondisi musim tanam tahun ini jauh lebih berat dibandingkan tahun 2025. Intensitas panas matahari yang tinggi membuat tanaman mudah layu dan mati karena lengeren bahasa jawanya.

 

“Merawat tembakau tahun 2026 tidak seperti tahun lalu. Panas matahari mulai sekitar pukul 08.00 hingga 16.00 WIB sangat menyengat. Tanaman cepat kering dan banyak yang mengalami kerusakan,” ujar Gunadi.Senin13/07/2026.

 

Selain cuaca ekstrem, petani juga mengaku harus berjuang mengendalikan serangan hama dan penyakit tanaman yang dalam istilah Jawa dikenal sebagai lenger dan benges. Kondisi tersebut membuat biaya produksi semakin tinggi, sementara kepastian harga jual saat panen masih menjadi tanda tanya.

 

Keluhan serupa disampaikan saat para petani dan buruh tani berkumpul di Warung Gendut, Desa Pacing, Kecamatan Sukosewu. Sambil menikmati secangkir kopi, mereka berdiskusi dan saling bertukar pengalaman mengenai cara merawat tanaman tembakau di daerah masing-masing.

 

Petani asal Desa Pacing, Kardi,menjelaskan bahwa tantangan di wilayahnya berbeda dengan Kecamatan Balen. Lahan pertanian di Desa Pacing sebagian besar mengandalkan air hujan karena jauh dari jaringan irigasi.

 

“Di sini tetap panas, tetapi tantangannya lebih berat karena sawah hanya mengandalkan air hujan. Kami harus sabar dan memanfaatkan air sumur seadanya untuk menyelamatkan tanaman,” katanya.

 

Para petani berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi yang mereka hadapi, baik melalui dukungan sarana pertanian maupun upaya menjaga stabilitas harga tembakau saat musim panen tiba. Menurut mereka, harga yang layak akan menjadi penyemangat bagi petani untuk terus mempertahankan budidaya tembakau di tengah cuaca yang semakin tidak menentu.