Maki Jatim dan Laskar Jahanam Berkolaborasi Tuntutan Warga Terhadap Pabrik Imasco
Jember, – Mediainfopol.com
Pertemuan antara Maki Jatim bersama Ketua Laskar Jahanam digelar untuk membahas tuntutan warga terhadap aktivitas pabrik Imasco yang dinilai meresahkan. Pertemuan ini menjadi sorotan karena menyangkut keselamatan masyarakat dan ketertiban lingkungan sekitar.
Dalam pertemuan tersebut, ketua Maki Jatim Heru Satriyo, menyampaikan bahwa keluhan warga telah berlangsung cukup lama, terutama terkait jam operasional truk yang melintas di area pemukiman. Aktivitas tersebut dinilai mengganggu kenyamanan dan membahayakan pengguna jalan lainnya. Sabtu (18/4/2026)

“Kami mendukung penuh aspirasi masyarakat. Ia menilai, keselamatan warga harus menjadi prioritas utama, terlebih jika aktivitas industri berdampak langsung pada lingkungan sekitar,” kata Heru Satriyo.
Heru mengungkapkan, bahwa permasalahan ini semakin mencuat setelah adanya kejadian kecelakaan lalu lintas yang melibatkan truk pabrik. Insiden tersebut mengakibatkan satu korban meninggal dunia dan memicu kemarahan warga.

“Warga menilai kecelakaan tersebut bukan sekadar kejadian biasa, melainkan dampak dari lemahnya pengaturan jam operasional kendaraan berat. Mereka menuntut adanya pembatasan waktu operasional demi mengurangi risiko kecelakaan,” ungkapnya.
Heru menambahkan, Selain itu, warga juga mengeluhkan intensitas lalu lintas truk yang tinggi, terutama pada jam-jam sibuk. Kondisi ini dinilai memperparah kemacetan dan meningkatkan potensi kecelakaan di jalan sempit kawasan pemukiman.
Dalam diskusi, Maki Jatim mendorong pihak terkait, termasuk pemerintah daerah, untuk segera turun tangan. “Mereka meminta adanya regulasi tegas serta pengawasan yang konsisten terhadap aktivitas pabrik,” tegasnya.
Sementara itu Ketua Laskar Jahanam Dwi Agus juga menyatakan siap mengawal tuntutan warga hingga mendapatkan solusi konkret. Ia menegaskan bahwa aksi lanjutan tidak menutup kemungkinan akan dilakukan jika tidak ada respon dari pihak terkait.
“Kami berharap perusahaan dapat bersikap kooperatif dan membuka ruang dialog. Mereka menginginkan solusi yang adil tanpa merugikan salah satu pihak,” tuturnya
Dwi Agus mengatakan, pertemuan tersebut menghasilkan beberapa poin kesepakatan awal, termasuk rencana penyampaian tuntutan resmi kepada pihak pabrik dan pemerintah setempat. Langkah ini diharapkan dapat menjadi awal penyelesaian masalah.
“Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap aktivitas industri, khususnya yang bersinggungan langsung dengan masyarakat. Keselamatan dan kenyamanan warga diharapkan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan operasional perusahaan,” pungkasnya.
(Nurdiansyah)