BOJONEGORO//mediainfopol.com
Bagi sebagian orang, tembakau rajangan mungkin terlihat hampir sama. Namun, bagi H. Sujud, setiap rajangan memiliki karakter yang berbeda. Cukup dengan memegang, memperhatikan rajangan, dan mencium aromanya, kualitas tembakau dapat terbaca sebelum harga ditentukan.
Pengalaman panjang membuat H. Sujud dikenal sebagai salah satu pembeli tembakau yang cukup kondang di wilayah Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro. Dari gudangnya di Desa Duyungan, aktivitas jual beli tembakau berlangsung hampir setiap hari.Jum, at 21/08/2026.
Bukan dalam jumlah sedikit. Dalam sehari, H. Sujud dapat membeli tembakau rajangan sekitar 1 hingga 3 ton, tergantung jumlah pedagang yang datang. Jika dihitung dari dua lokasi pembelian, volume tembakau yang terserap bisa mencapai sekitar 4 hingga 8 ton per hari.
Namun, di balik besarnya transaksi tersebut, ada prinsip yang terus ia pegang: jangan sampai keuntungan diperoleh dengan merugikan penjual.
Kepada para pedagang yang menyetorkan tembakau, H. Sujud justru kerap memberikan pesan agar proses transaksi dilakukan secara hati-hati dan terbuka.
“Hati-hati kalau ngecek tembakau. Jangan sampai merugikan penjual, terutama dalam cara menimbang. Jangan sampai penjual dirugikan,” ungkapnya.
Tangan dan Hidung Jadi “Alat Ukur” Pengalaman. Bagi H. Sujud, kemampuan membaca tembakau tidak diperoleh dalam waktu singkat. Pengalaman bertahun-tahun berhadapan dengan berbagai kualitas tembakau membuat kepekaannya semakin terasa.

H. Sujud, memperhatikan tekstur ketika tembakau digenggam, kerapian rajangan, kelurusan potongan, hingga aroma yang keluar dari tembakau.
Menurutnya, tembakau dari daun bagian atas umumnya memiliki kualitas lebih unggul dibandingkan daun bagian bawah. Karakternya dapat terlihat dari pegangan yang baik, rajangan yang rapi dan lurus, serta aroma khas yang tidak terlalu pesing, langu maupun asam.
“Kalau sudah terbiasa, tembakau itu bisa dibaca dari pegangan, rajangan dan aromanya. Jadi tidak hanya melihat warna,” jelasnya.
Harga Tinggi Tak Selalu Berarti Untung. H. Sujud menilai perdagangan tembakau membutuhkan ilmu dan ketelitian. Terlebih ketika harga pasar mengalami kenaikan. Pedagang maupun pembeli harus mampu membedakan kualitas agar tidak salah mengambil keputusan.
Sebab, membeli tembakau kualitas rendah dengan harga tinggi dapat menjadi persoalan ketika tembakau tersebut kembali dipasarkan.
Karena itu, sebelum menentukan harga, perhitungan harus dilakukan secara matang. Modal pembelian, kualitas atau grade tembakau, perkiraan harga jual per kuintal maupun ton, hingga potensi margin keuntungan menjadi bagian dari pertimbangan.
Bagi H. Sujud, pengalaman saja tidak cukup. Seorang pembeli harus memiliki pengetahuan agar mampu membaca kualitas dan mengambil keputusan secara tepat.
Tak Hanya Dikenal di Gudang Tembakau di luar aktivitas perdagangan, H. Sujud dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul dengan masyarakat. Ia memiliki kepedulian sosial yang tinggi, dikenal dermawan, dan tidak menjaga jarak dengan masyarakat dari berbagai kalangan.
Ngopi dan ngobrol bersama warga menjadi pemandangan yang biasa. Dari ruang sederhana itu pula berbagai cerita tentang kehidupan masyarakat, termasuk persoalan petani dan perdagangan tembakau, sering diperbincangkan.
Kedekatan tersebut membuat sosok H. Sujud tidak hanya dikenal karena kapasitasnya dalam menyerap tembakau, tetapi juga karena cara membangun hubungan dengan masyarakat.
Baginya, perdagangan bukan semata-mata tentang berapa banyak barang yang dibeli dan berapa besar keuntungan yang diperoleh.
Ada kepercayaan yang harus dijaga, ada penjual yang harus dihargai, dan ada hubungan baik yang tidak boleh hilang hanya karena sebuah transaksi.
Di tengah kerasnya persaingan perdagangan tembakau, prinsip itulah yang terus dibawa H. Sujud: tajam membaca kualitas, cermat menentukan harga, tetapi tetap menjaga agar transaksi tidak merugikan orang lain.
(Moh.Kanafi-mip-com)