BOJONEGORO — mediainfopol.com Harga tembakau di Desa Pacing, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mulai mengalami tekanan memasuki September 2026. Harga yang sebelumnya sempat berada di kisaran Rp46.000 per kilogram pada Agustus, kini turun ke rentang Rp32.000-Rp34.000 per kilogram.
Kondisi tersebut menjadi bahan perbincangan hangat di tengah masyarakat, khususnya para petani tembakau. Salah satu lokasi yang menjadi tempat warga bertukar informasi adalah warung kopi milik Siti Kotiah, yang akrab disapa “YangGendut”.
Pada Senin (14/9/2026) pagi, warung yang dikenal buka siang hingga malam itu tampak menjadi ruang diskusi informal warga. Para petani dan masyarakat setempat membicarakan perkembangan harga tembakau sekaligus membandingkan hasil musim panen tahun ini dengan tahun sebelumnya.
Harga Turun, Petani Mulai Mengeluh
Penurunan harga menjadi perhatian karena terjadi ketika aktivitas panen dan perdagangan tembakau masih berlangsung. Dari informasi yang disampaikan warga setempat, harga tembakau pada September berada di kisaran Rp32.000-Rp34.000 per kilogram.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan harga yang sempat dicapai pada Agustus, yakni sekitar Rp46.000 per kilogram.
Yitno, salah seorang petani yang ikut dalam obrolan tersebut, menilai perkembangan harga tahun ini cukup membuat petani harus berhitung lebih cermat.
“Layo rego mbako ulan 9 kok wes merosot, isih apik rego 2025 cumak rendemene apik sak iki,” ujar Yitno.
Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Yitno mengatakan bahwa harga tembakau pada bulan September sudah mengalami penurunan. Menurutnya, harga pada 2025 masih lebih baik, meskipun rendemen tembakau tahun ini dinilai lebih bagus.
Dibandingkan dengan Harga Musim 2025
Perbandingan harga dengan musim sebelumnya juga menjadi perhatian warga. Pono, warga yang turut berbincang di warung “YangGendut”, menyebut harga tembakau pada 2025 pernah mencapai sekitar Rp50.000 per kilogram.
Sementara pada musim 2026, menurut Pono, harga tersebut belum kembali tercapai.
“Tahun 2025 rego tembakau perkilo hingga Rp50.000 per kilogramnya, tahun 2026 wes gak iso mencapai Rp48.000 per kilogramnya,” kata Pono.
Pernyataan tersebut menggambarkan keresahan sebagian petani terhadap perubahan harga di tingkat perdagangan. Bagi petani, harga jual menjadi salah satu faktor penting untuk menentukan apakah hasil panen mampu menutup biaya produksi sekaligus memberikan keuntungan.
Rendemen Bagus Jadi Penghibur Petani
Di tengah tekanan harga, masih ada sisi positif yang dirasakan petani Pacing. Mereka menilai rendemen tembakau pada musim 2026 cukup bagus.
Rendemen yang baik menjadi modal penting bagi petani karena berkaitan dengan kualitas dan hasil yang diperoleh dari proses pengolahan tembakau. Karena itu, meski harga mengalami penurunan, sebagian petani masih memiliki harapan terhadap kualitas hasil panen.
Obrolan di warung “YangGendut” pada pagi itu pun menjadi gambaran sederhana mengenai kondisi petani tembakau di tingkat desa. Di balik secangkir kopi dan percakapan santai, terselip persoalan ekonomi yang cukup serius: bagaimana petani mempertahankan pendapatan ketika harga komoditas bergerak turun.
Bagi petani, fluktuasi harga bukan sekadar angka di pasar. Perubahan beberapa ribu rupiah per kilogram dapat memberikan dampak terhadap pendapatan, terutama ketika biaya produksi seperti bibit, pupuk, tenaga kerja, pengolahan, hingga kebutuhan lainnya terus menjadi bagian dari perhitungan musim tanam.
Kondisi harga tembakau di Pacing tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya informasi pasar yang transparan bagi petani. Dengan mengetahui perkembangan harga dan kualitas komoditas secara lebih terbuka, petani diharapkan dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dalam menghadapi musim panen.