KEDIRI – MediaInfopol.com

Di balik kesibukannya sebagai prajurit aktif Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), Kolonel Laut (P) Andreas Suko Riyanto, S.H., memiliki perhatian besar terhadap pelestarian budaya dan adat istiadat warisan leluhur. Putra daerah asal Dusun Katang, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, ini menyimpan cita-cita untuk turut berkontribusi dalam pengembangan kebudayaan dan pariwisata di tanah kelahirannya.

Bagi Andreas, budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian penting dari identitas bangsa yang perlu dijaga, dirawat, dilestarikan, dikembangkan dan diwariskan kepada generasi penerus. Kekayaan sejarah, tradisi, serta pusaka Nusantara, khususnya yang berkaitan dengan Kediri, menjadi bagian dari warisan berharga yang menurutnya patut terus diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Perhatian tersebut tumbuh seiring perjalanan hidup dan pengabdiannya sebagai prajurit TNI AL. Di tengah tuntutan tugas kedinasan, Andreas tetap berupaya menjaga kedekatannya dengan kebudayaan serta nilai-nilai luhur warisan leluhur.

Mendirikan Yayasan Budaya Panjalu Jayati Kadhiri

Salah satu bentuk kepedulian Andreas terhadap pelestarian budaya diwujudkan melalui pendirian Yayasan Budaya Panjalu Jayati Kadhiri.

Selain itu, ia terlibat dalam Komunitas Wanita Bersanggul Indonesia (WBI) Cabang Kediri dan aktif dalam dunia tosan aji, yakni tradisi yang berkaitan dengan seni, pengetahuan, serta pelestarian senjata tradisional dan pusaka Nusantara.

Andreas juga kerap menjadi narasumber dalam kegiatan kebudayaan serta mengisi siaran radio dengan tema pelestarian budaya. Melalui berbagai aktivitas tersebut, ia berupaya mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar semakin mengenal dan menghargai kekayaan budaya bangsa.

Baginya, budaya menyimpan nilai sejarah, identitas, kearifan lokal, dan pelajaran kehidupan yang tetap relevan dengan perkembangan zaman. Karena itu, pelestarian budaya membutuhkan kepedulian bersama agar warisan leluhur tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.

Rela Menyisihkan Penghasilan demi Pendopo dan Museum

Keseriusan Andreas dalam melestarikan warisan leluhur juga tercermin dari cita-citanya membangun pendopo dan museum pribadi.

Untuk mewujudkan rencana tersebut, ia rela menyisihkan penghasilan dan mengangsur pembelian tanah. Langkah itu merupakan bagian dari ikhtiarnya untuk menyediakan ruang yang kelak diharapkan dapat dimanfaatkan untuk menyimpan, merawat, dan memperkenalkan kekayaan sejarah serta budaya kepada masyarakat.

Andreas juga aktif dalam salah satu perguruan silat yang berakar pada tradisi leluhur. Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa perhatiannya terhadap budaya tidak berhenti pada gagasan, tetapi berusaha diwujudkan melalui aktivitas nyata.

Rencana pendirian pendopo dan museum pribadi itu diharapkan menjadi salah satu upaya untuk menjaga kesinambungan warisan budaya, sekaligus membuka kesempatan bagi generasi berikutnya untuk mempelajari nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Meniti Karier Militer, dari Intelijen hingga Pendidikan Prajurit

Di balik kiprahnya dalam bidang kebudayaan, Andreas memiliki perjalanan karier militer yang diwarnai beragam penugasan dan tanggung jawab.

Dalam perjalanan dinasnya di TNI AL, ia banyak bertugas di bidang intelijen, mulai dari staf intelijen di Lantamal dan Koarmada, Perwira staf Intelijen (Pasintel) Lanal, hingga penugasan dalam Satuan Tugas Bawah Kendali Operasi (Satgas BKO) Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.

Berbagai penugasan tersebut menjadi bagian dari pengalaman profesionalnya dalam menjalankan tugas sebagai prajurit. Untuk memperluas pengetahuan dan wawasan, khususnya mengenai aspek hukum yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas, Andreas melanjutkan pendidikan di bidang hukum hingga meraih gelar Sarjana Hukum (S.H.). Ia juga mengikuti kursus penyidik sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi dan pemahamannya terhadap persoalan hukum.

Langkah tersebut mencerminkan pentingnya
pendidikan dan pengembangan kemampuan dalam menunjang profesionalisme seorang prajurit. Menurut perjalanan yang ditempuhnya, pengalaman lapangan perlu diimbangi dengan pengetahuan serta pemahaman yang memadai agar setiap tanggung jawab dapat dijalankan secara profesional.

Setelah mengikuti Pendidikan Lanjutan Perwira (Diklapa), yang menjadi salah satu tahapan pengembangan karier perwira, Andreas juga mendapat sejumlah penugasan di lembaga pendidikan militer atau lembaga pendidikan (Lemdik).

Dalam lingkungan pendidikan tersebut, ia menjalankan berbagai peran, di antaranya sebagai instruktur, Perwira Pembimbing Siswa (Pabingsis), serta Perwira Operasi dan Pengajar (Paopsjar).

Penugasan di bidang pendidikan memiliki karakteristik tersendiri karena tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi dan peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, serta mentalitas prajurit.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdiannya. Membentuk prajurit tidak cukup hanya dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membutuhkan keteladanan, pembinaan, dan penanaman nilai-nilai tanggung jawab dalam menjalankan tugas.

Selain bertugas di bidang intelijen dan pendidikan militer, Andreas juga memiliki pengalaman di lingkungan komando latihan TNI AL.

Ia pernah bertugas di Komando Latihan (Kolat) Koarmada I, kemudian mengemban tugas sebagai Komandan Pusat Latihan Penerbangan TNI AL (Puslat Penerbal) di lingkungan Kolatarmada II. Dalam perjalanan karier selanjutnya, ia juga dipercaya menjabat sebagai Wakil Komandan Kolat Penerbal.

Beragam penugasan tersebut memberinya pengalaman dalam lingkungan kerja yang berbeda, mulai dari bidang intelijen, pembinaan personel, pendidikan dan latihan, hingga kepemimpinan organisasi.

Saat ini, dengan pangkat Kolonel Laut (P), Andreas mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) VIII di Manado, Sulawesi Utara.

Jabatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang pengabdiannya di lingkungan TNI AL. Berbagai pengalaman yang telah dilalui menunjukkan proses pengembangan karier yang disertai penugasan dan tanggung jawab di sejumlah bidang.

Meski demikian, di luar kewajiban kedinasan, Andreas tetap menyimpan perhatian terhadap kebudayaan dan daerah asalnya, Kabupaten Kediri.

Menyimpan Cita-Cita untuk Tanah Kelahiran

Bagi Andreas, pengabdian kepada bangsa dan negara tidak menghalangi keinginannya untuk berkontribusi bagi masyarakat dan daerah asal. Ia justru berharap pengalaman, wawasan, serta nilai kedisiplinan yang diperoleh selama berdinas dapat menjadi bekal untuk mengembangkan gagasan pelestarian budaya di Kediri.

Ia memandang kekayaan sejarah, tradisi, pusaka, dan peninggalan leluhur Kediri sebagai potensi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Pengembangan kebudayaan yang berjalan beriringan dengan pariwisata berpeluang memperkuat identitas daerah sekaligus membuka ruang partisipasi masyarakat. Apabila dikelola dengan baik, potensi tersebut juga dapat mendukung kegiatan ekonomi kreatif, pemberdayaan pelaku budaya, serta pengenalan sejarah lokal kepada wisatawan.

Selama bertugas di berbagai daerah, Andreas berupaya memperluas wawasan dengan mempelajari nilai-nilai luhur kebudayaan Nusantara dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal untuk merumuskan gagasan yang bermanfaat bagi pelestarian budaya di tanah kelahirannya.

Ia menyadari bahwa cita-cita mengembangkan budaya dan pariwisata Ia memandang kekayaan sejarah, tradisi, pusaka, dan peninggalan leluhur Kediri sebagai potensi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. membutuhkan waktu, perencanaan, kerja sama, serta dukungan berbagai pihak. Karena itu, keinginan tersebut merupakan harapan jangka panjang yang ingin terus diperjuangkannya ketika memiliki kesempatan lebih luas.

Pengabdian Tidak Berhenti pada Pangkat dan Jabatan

Perjalanan Kolonel Laut (P) Andreas Suko Riyanto memperlihatkan beragam sisi pengabdian. Sebagai prajurit TNI AL, ia menjalankan tugas negara melalui penugasan di bidang intelijen, pendidikan dan latihan, serta tanggung jawab kedinasan lainnya. Di luar tugas tersebut, ia tetap menaruh perhatian terhadap pelestarian budaya dan warisan leluhur.

Berangkat dari keluarga sederhana di Dusun Katang, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Andreas menapaki perjalanan pendidikan dan karier hingga mencapai pangkat kolonel. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha, selama disertai kemauan belajar, kedisiplinan, ketekunan, dan kerja keras.

Perjalanannya juga menunjukkan bahwa pengabdian tidak semata-mata diukur dari pangkat, jabatan, atau pencapaian karier. Keinginan untuk berbagi manfaat, menjaga warisan budaya, dan memberikan kontribusi kepada masyarakat merupakan bagian lain dari nilai pengabdian yang dapat terus dikembangkan.

Cita-cita Andreas untuk turut mengangkat kebudayaan dan pariwisata Kediri diharapkan dapat menemukan jalannya pada masa mendatang. Dengan dukungan masyarakat, pelaku budaya, pemerintah daerah, dan berbagai pihak terkait, kekayaan warisan leluhur Kediri berpeluang semakin dikenal serta memberikan manfaat bagi generasi sekarang dan yang akan datang.

Dari perjalanan seorang prajurit yang mengabdikan diri kepada negara hingga kepeduliannya terhadap budaya tanah kelahiran, tersimpan pesan bahwa mencintai bangsa juga berarti menjaga sejarah, merawat tradisi, dan meneruskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus.

Semoga cita-cita Kolonel Laut (P) Andreas Suko Riyanto untuk turut mengembangkan kebudayaan dan pariwisata Kediri dapat terwujud, sehingga warisan leluhur tetap lestari dan semakin memberikan manfaat bagi masyarakat.
Aamiin.

Penulis: Wahyu Surya Putra, S.T.
Kepala Perwakilan Wilayah Jawa Timur sekaligus Penasihat Redaksi MediaInfopol.com

Penasihat Hukum Redaksi: Wahyu Suryo Wibowo, S.H., M.H.

Keterangan Redaksi: Artikel edisi ketiga sekaligus penutup serial profil ini disusun berdasarkan konfirmasi dan keterangan dari Kolonel Laut (P) Andreas Suko Riyanto, S.H. Penulis memiliki hubungan kekerabatan dengan yang bersangkutan. Keduanya merupakan keturunan almarhum Mbah Djotono dan almarhumah Mbah Karsinem serta berasal dari dusun dan desa yang sama di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri.

By wahyu