KEDIRI – MediaInfopol.com
Berita Bersambung – Bagian 1
Lahir dari keluarga sederhana bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Perjalanan hidup Kolonel Laut (P) Andreas Suko Riyanto, S.H., menjadi gambaran tentang perjuangan, ketekunan, dan pengabdian dalam meniti karier hingga mencapai pangkat kolonel di lingkungan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL).

Andreas berasal dari Dusun Katang, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Ia merupakan putra sulung dari pasangan almarhum Bapak Sriyanto, yang semasa hidup bekerja sebagai sopir, dan Ibu Sukarmi, seorang karyawati pabrik di Kediri.
Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Andreas tumbuh dalam keluarga sederhana yang mengajarkannya arti kerja keras dan perjuangan. Kondisi ekonomi keluarga menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, tetapi tidak memadamkan semangatnya untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Menempuh Pendidikan dengan Semangat
Perjalanan pendidikan Andreas dimulai di SDN Sukorejo III dan lulus pada 1986. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMPN 2 Gampengrejo hingga lulus pada 1989, sebelum menamatkan pendidikan di SMAN 3 pada 1992.
Setelah menjalani karier di dunia militer, Andreas kembali mengembangkan pendidikannya dengan menempuh studi di Fakultas Hukum Universitas Hang Tuah, Surabaya, yang diselesaikannya pada 2014.

Dalam kehidupan sehari-hari, Andreas memiliki panggilan berbeda sesuai lingkungan pergaulannya. Di lingkungan keluarga, ia akrab disapa Riyanto. Teman-teman sekolah mengenalnya sebagai Suko, sedangkan di lingkungan kedinasan TNI AL ia biasa dipanggil Andreas.
Sementara itu, di kalangan pegiat budaya, tosan aji, dan spiritual, ia dikenal dengan sebutan Mbah Warok Panjalu.
Cita-Cita Menjadi Dokter Harus Terpendam
Selepas lulus dari SMAN 3 pada 1992, Andreas yang menempuh bidang Biologi bercita-cita menjadi seorang dokter. Namun, keterbatasan biaya membuat impian tersebut belum dapat diwujudkan.

Cita-cita yang telah ia bangun sejak masa sekolah itu akhirnya harus dipendam. Meski demikian, keadaan tersebut tidak membuatnya berhenti berusaha. Jalan hidup justru membawanya menuju pengabdian di dunia militer.
Pada Januari 1993, sejumlah temannya mengajak Andreas mendaftar menjadi prajurit TNI AL. Tanpa persiapan yang matang, ia memberanikan diri mengikuti seleksi.
Tahapan demi tahapan dijalaninya hingga akhirnya dinyatakan lulus pantukhir. Andreas mengaku tidak menyangka dapat lolos seleksi. Ia juga menegaskan bahwa keberhasilannya tersebut diraih tanpa memberikan uang pelicin ataupun imbalan sepeser pun.

Kelulusan itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya sebagai prajurit TNI AL.
Memulai Pengabdian di Kapal Perang
Setelah menyelesaikan pendidikan militer, Andreas mendapat penugasan di kapal perang KRI Siribua-859 sebagai navigator.
Penugasan tersebut menjadi awal pengabdiannya di lingkungan TNI AL. Pengalaman bertugas di laut memberinya kesempatan untuk mengenal lebih jauh tugas dan tanggung jawab sebagai prajurit matra laut.

Dari pengalaman tersebut, Andreas kemudian mengembangkan kemampuan dan menapaki jenjang karier yang lebih luas.
Perjalanan seorang pemuda dari Dusun Katang itu menunjukkan bahwa kesempatan dapat datang melalui jalan yang tidak selalu direncanakan sebelumnya. Cita-cita menjadi dokter memang belum terwujud, tetapi ia menemukan jalan pengabdian lain melalui dunia militer.
Awal Perjalanan Panjang Menuju Jenjang Karier Berikutnya
Kisah Andreas menjadi pengingat bahwa latar belakang keluarga tidak harus membatasi masa depan seseorang. Keberanian mengambil kesempatan, kemauan untuk terus belajar, serta ketekunan dalam menjalani proses merupakan bekal penting untuk meraih keberhasilan.
Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, perjalanan Andreas hingga memasuki dunia militer menjadi bagian penting dari kisah hidupnya. Dari keluarga sederhana, ia terus berusaha mengembangkan kemampuan dan menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.
Namun, penugasan sebagai navigator bukanlah akhir dari perjalanan kariernya. Pada Februari 1998, Andreas mengikuti seleksi calon perwira penerbang TNI AL. Kesempatan tersebut menjadi babak baru yang semakin menentukan perjalanan pengabdiannya.
Bagaimana perjalanan Andreas dari seorang navigator kapal perang hingga menjadi perwira penerbang TNI AL? Kisah tersebut akan diulas dalam kelanjutan serial profil ini.
Bersambung ke Bagian 2: Dari Navigator Menjadi Perwira Penerbang TNI AL.

Penulis: Wahyu Surya Putra, S.T.
Kepala Perwakilan Wilayah Jawa Timur sekaligus Penasihat Redaksi MediaInfopol.com
Penasihat Hukum Redaksi: Wahyu Suryo Wibowo, S.H., M.H.
Keterangan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan konfirmasi dan keterangan dari Kolonel Laut (P) Andreas Suko Riyanto, S.H. Penulis memiliki hubungan kekerabatan dengan yang bersangkutan. Keduanya merupakan keturunan dari almarhum Mbah Djotono dan almarhumah Mbah Karsinem serta berasal dari dusun dan desa yang sama di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri.