GEMA DZIKIR DARI SILIRAGUNG! HAUL SYEKH ABDUL QODIR AL-JAILANI DAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW KETUK HATI UMAT

Banyuwangi, – Mediainfopol.com

Istiqomah Dzikir Akbar dan Manaqib Ahad Wage Digelar di Ponpes Kyai Kembar, Banyuwangi — Menghidupkan Shalawat, Meneguhkan Ukhuwah dan Mengajak Hati Kembali kepada Allah SWT

BANYUWANGI — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, ketika manusia disibukkan oleh pekerjaan, keluarga, rezeki dan berbagai persoalan dunia, ada saatnya hati membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak.

Bukan untuk menyerah.

Melainkan untuk menundukkan kepala, bermuhasabah, mengangkat kedua tangan dan kembali mengingat Allah SWT.

Dari wilayah selatan Kabupaten Banyuwangi, sebuah majelis keagamaan kembali membawa pesan keteduhan tersebut.

Istiqomah Dzikir Akbar dan Manaqib setiap Ahad Wage, dalam rangka Haul Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dan Maulid Nabi Muhammad SAW, akan digelar pada Sabtu, 29 Agustus 2026, mulai pukul 20.00 WIB sampai selesai, bertempat di Ponpes Kyai Kembar, Seneposari–Barurejo–Siliragung, Banyuwangi.

Kegiatan yang diumumkan sebagai undangan umum itu diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat untuk berkumpul dalam suasana religius, memperbanyak dzikir dan shalawat, mengenang keteladanan ulama, mempererat silaturahmi serta memohon keberkahan kepada Allah SWT.

Tidak semua beban kehidupan mampu diceritakan kepada orang lain.

Ada seseorang yang terlihat tersenyum, tetapi sebenarnya sedang menyimpan kegelisahan.

Ada seorang ayah yang setiap hari berjuang agar keluarganya tetap dapat menjalani kehidupan dengan baik.

Ada seorang ibu yang diam-diam menyebut nama anak-anaknya dalam setiap doa.

Ada yang sedang diuji kesehatan.

Ada yang berjuang mencari rezeki.

Ada yang sedang menghadapi persoalan keluarga.

Ada pula yang hanya berharap memperoleh ketenteraman setelah sekian lama hatinya dipenuhi kegelisahan.

Dalam keadaan seperti itulah dzikir mengingatkan manusia bahwa sebesar apa pun persoalan yang sedang dihadapi, seorang hamba tetap memiliki tempat untuk bersandar dan memohon pertolongan.

Allah SWT berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa manusia boleh mempunyai banyak rencana, ikhtiar dan harapan.

Namun di dalam hati terdapat ruang yang tidak dapat digantikan oleh harta, kedudukan maupun pujian manusia.

Ruang itu membutuhkan ketenteraman yang tumbuh dari kedekatan kepada Allah SWT.

Karena itulah majelis dzikir bukan semata-mata tempat berkumpul.

Ia juga menjadi ruang untuk bermuhasabah, memperbaiki diri, memperkuat persaudaraan dan mengingat kembali tujuan kehidupan.

Haul Syekh Abdul Qodir Al-Jailani menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut.

Momentum haul bukan sekadar mengenang seorang ulama besar, melainkan juga menjadi kesempatan bagi umat untuk mengambil hikmah dari keteladanan orang-orang saleh.

Tentang keimanan dan ketakwaan.

Tentang ilmu dan akhlak.

Tentang istiqamah dalam kebaikan.

Tentang kerendahan hati.

Dan tentang pengabdian seorang hamba kepada Allah SWT.

Penghormatan terhadap ulama dan orang-orang saleh akan memiliki makna yang semakin dalam ketika keteladanan mereka mampu mendorong generasi berikutnya untuk mencintai ilmu, memperbaiki akhlak dan memperbanyak amal kebaikan.

Sebab keteladanan tidak cukup hanya diceritakan.

Keteladanan harus berusaha dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.

Majelis tersebut sekaligus dilaksanakan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW.

Momentum Maulid menjadi pengingat bagi umat Islam untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, memperbanyak shalawat dan berusaha meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab: 56)

Kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak hanya indah ketika diucapkan melalui shalawat.

Cinta itu juga semestinya tumbuh menjadi akhlak.

Menjadi kelembutan kepada orang tua.

Kasih sayang kepada keluarga.

Kejujuran dalam mencari rezeki.

Kepedulian kepada tetangga dan masyarakat.

Kemampuan menahan amarah.

Kerendahan hati.

Kesediaan memaafkan.

Dan kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan.

Karena shalawat yang hidup di lisan akan semakin indah ketika nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW ikut hidup dalam perbuatan.

Sabtu malam itu, setiap orang mungkin datang membawa cerita yang berbeda.

Ada yang datang membawa rasa syukur.

Ada yang membawa kegelisahan.

Ada yang membawa harapan.

Ada yang membawa persoalan.

Ada pula yang membawa nama ayah, ibu, pasangan, anak-anak dan orang-orang yang dicintainya untuk diselipkan dalam doa.

Namun ketika semuanya duduk dalam satu majelis, perbedaan kehidupan duniawi seharusnya tidak lagi menjadi sekat.

Semuanya datang sebagai hamba Allah SWT.

Yang berkecukupan membutuhkan Allah.

Yang sedang kekurangan membutuhkan Allah.

Yang sedang bahagia membutuhkan Allah.

Yang sedang berduka pun membutuhkan Allah.

Sebab tidak ada manusia yang terlalu kuat untuk tidak membutuhkan pertolongan-Nya.

Dan tidak ada manusia yang terlalu jauh untuk berharap kepada rahmat-Nya.

Allah SWT berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.”
(QS. Ghafir: 60)

Maka majelis ini menjadi momentum untuk membawa doa-doa terbaik.

Doakan kedua orang tua.

Doakan pasangan dan anak-anak.

Doakan keluarga.

Doakan para guru dan ulama.

Doakan saudara-saudara yang sedang mengalami kesulitan.

Doakan mereka yang sedang sakit.

Doakan mereka yang telah lebih dahulu menghadap Allah SWT.

Dan doakan masyarakat serta bangsa Indonesia agar senantiasa diberikan keselamatan, persatuan, kedamaian dan keberkahan.

Dalam semangat kegiatan ini, kehadiran Gus Ridho menjadi bagian dari harapan agar majelis dzikir tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Dzikir diharapkan tidak hanya terucap melalui lisan, tetapi meresap ke dalam hati dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat itulah yang diharapkan melahirkan manusia yang semakin menghormati orang tua, mencintai keluarga, menjaga persaudaraan, ringan membantu sesama, mudah memaafkan serta semakin istiqamah dalam melakukan kebaikan.

Majelis keagamaan juga diharapkan menjadi ruang yang menyejukkan dan mempersatukan, tempat masyarakat bertemu dalam kebersamaan tanpa memandang perbedaan latar belakang kehidupan.

Sebab salah satu keindahan sebuah majelis adalah ketika manusia datang dengan keadaan yang berbeda-beda, tetapi duduk bersama dengan satu tujuan:

mengharap ridha Allah SWT.

Semangat yang sama menyertai keberadaan Abah Kyai Kembar dalam kegiatan tersebut.

Majelis diharapkan menjadi tempat masyarakat memperoleh keteduhan batin sekaligus memperkuat silaturahmi dan persaudaraan.

Mereka yang datang membawa kegelisahan diharapkan memperoleh ketenangan. Mereka yang sedang menghadapi kesulitan diharapkan diberikan kemudahan oleh Allah SWT. Mereka yang sedang sakit didoakan memperoleh kesehatan dan kesembuhan. Mereka yang sedang berjuang mencari nafkah diharapkan dibukakan pintu rezeki yang halal, luas dan penuh keberkahan.

Sedangkan keluarga-keluarga yang hadir maupun yang turut didoakan, semoga senantiasa memperoleh perlindungan Allah SWT.

Pada akhirnya, majelis bukan tentang siapa yang paling dikenal. Bukan tentang siapa yang duduk paling depan. Bukan pula tentang kemegahan sebuah acara.

Tetapi tentang hamba-hamba Allah yang duduk bersama, merendahkan hati, berdzikir, bershalawat dan mengetuk pintu rahmat-Nya.

Keberhasilan sebuah majelis tidak hanya dapat diukur dari banyaknya jamaah yang memenuhi tempat. Ada sesuatu yang jauh lebih bermakna: berapa banyak hati yang setelah pulang menjadi lebih baik.

Jika seseorang datang membawa amarah, semoga pulang membawa kelapangan. Jika datang membawa kegelisahan, semoga pulang membawa ketenteraman. Jika datang membawa kesombongan, semoga pulang membawa kerendahan hati. Jika datang membawa perselisihan, semoga hatinya tergerak untuk berdamai. Jika datang dalam keadaan jauh dari Allah SWT, semoga malam itu menjadi salah satu jalan untuk kembali mendekat kepada-Nya.

Dan jika seseorang datang membawa doa yang selama ini hanya mampu dibisikkan dalam kesunyian, semoga Allah SWT memberikan jawaban pada waktu dan dengan cara terbaik menurut kehendak-Nya.

Tidak semua manusia mengetahui apa yang sedang kita perjuangkan. Tidak semua orang memahami apa yang membuat seseorang menangis ketika sendirian.

Bahkan orang terdekat belum tentu mengetahui seluruh isi hati kita. Allah mengetahui doa seorang ibu untuk anak-anaknya. Allah mengetahui perjuangan seorang ayah untuk keluarganya. Allah mengetahui ikhtiar seseorang untuk memperoleh rezeki yang halal. Allah mengetahui air mata yang disembunyikan. Allah mengetahui kesulitan yang tidak diceritakan.

Dan Allah mengetahui harapan yang bahkan belum mampu terucapkan menjadi kata-kata.

Masyarakat diajak menghadiri:

Istiqomah Dzikir Akbar dan Manaqib setiap Ahad Wage
dalam rangka
Haul Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dan Maulid Nabi Muhammad SAW

Hari/Tanggal: Sabtu, 29 Agustus 2026
Waktu: Pukul 20.00 WIB sampai selesai
Tempat: Ponpes Kyai Kembar
Lokasi: Seneposari–Barurejo–Siliragung, Banyuwangi
Sifat: Undangan Umum

Datanglah dengan niat yang baik.Datanglah bersama keluarga. Datanglah membawa doa. Datanglah untuk bersilaturahmi. Datanglah untuk berdzikir dan bershalawat.

Sebab mungkin seseorang datang hanya dengan niat menghadiri sebuah majelis. Namun tidak seorang pun mengetahui dari pintu mana Allah SWT akan menghadirkan kebaikan dalam kehidupannya.

Boleh jadi melalui sebuah nasihat. Melalui pertemuan dengan saudara. Melalui lantunan shalawat. Melalui dzikir yang diucapkan dengan tulus. Atau melalui satu doa yang dipanjatkan dengan air mata.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Semoga setiap langkah menuju majelis menjadi kebaikan. Semoga setiap dzikir menghadirkan ketenteraman. Semoga setiap shalawat semakin menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Semoga setiap doa membawa kebaikan bagi diri, keluarga dan umat. Semoga silaturahmi semakin erat, persaudaraan semakin kuat, serta kehidupan masyarakat senantiasa dinaungi kedamaian dan keberkahan.

Dan semoga dari Ponpes Kyai Kembar, Seneposari–Barurejo–Siliragung, Banyuwangi, terpanjat doa-doa tulus untuk kedua orang tua, keluarga, para guru, masyarakat, bangsa dan umat.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak selalu membutuhkan tempat yang ramai untuk menemukan ketenangan.

Terkadang ia hanya membutuhkan satu malam untuk duduk bersama orang-orang yang berdzikir, menundukkan hati, lalu kembali menyadari:

bahwa setelah semua ikhtiar dilakukan, masih ada Allah SWT tempat seluruh harapan disandarkan.

Aamiin Yā Rabbal ‘Ālamīn.

 

 

(Siswanto)