KEDIRI – MediaInfopol.com
Berita Bagian – Ke 2(dua)
Perjalanan Kolonel Laut (P) Andreas Suko Riyanto, S.H., dalam mengabdi di lingkungan TNI Angkatan Laut terus berlanjut. Setelah memulai karier sebagai navigator di kapal perang KRI Siribua-859, ia mengikuti seleksi calon perwira penerbang TNI AL pada Februari 1998.

Keputusan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan kariernya. Dari seorang prajurit yang bertugas di kapal perang, Andreas berusaha membuka pel
uang baru dengan mengikuti pendidikan dan seleksi di bidang penerbangan militer.
Mengikuti Seleksi Calon Perwira Penerbang
no
Seleksi calon perwira penerbang bukanlah proses yang mudah. Selain membutuhkan kemampuan akademik, seorang calon juga harus memiliki kondisi fisik, mental, dan kesehatan yang memenuhi persyaratan.
Andreas menjalani seluruh tahapan seleksi dengan sungguh-sungguh. Pengalaman sebagai navigator menjadi bekal penting dalam memahami dunia kemaritiman, navigasi, serta operasi di lingkungan TNI AL.

Keinginannya untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan menjadi modal dalam menghadapi proses tersebut. Ia menyadari bahwa perubahan jalur pengabdian membutuhkan kesiapan dan tanggung jawab yang lebih besar.
Setelah melalui rangkaian seleksi, Andreas dinyatakan berhasil dan berkesempatan mengikuti pendidikan penerbang TNI AL.
Menjalani Pendidikan Penerbangan
n
Memasuki dunia penerbangan militer, Andreas menghadapi tantangan yang berbeda dari tugas sebelumnya di kapal perang. Ia harus mempelajari berbagai aspek penerbangan, mulai dari teori, navigasi udara, prosedur keselamatan, hingga keterampilan mengoperasikan pesawat.

Pendidikan tersebut menuntut kedisiplinan tinggi, ketelitian, serta kemampuan mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Dalam tugas penerbangan, kesalahan kecil dapat menimbulkan risiko besar sehingga setiap prosedur harus dijalankan sesuai ketentuan.
Bagi Andreas, proses pendidikan itu menjadi pengalaman berharga. Ia tidak hanya dituntut menguasai kemampuan teknis, tetapi juga memahami tanggung jawab seorang perwira penerbang dalam mendukung tugas-tugas TNI AL.
Dari Laut Menuju Udara
Peralihan dari navigator kapal perang menjadi perwira penerbang menunjukkan kemampuan Andreas dalam beradaptasi. Ia mampu memanfaatkan pengalaman sebelumnya untuk menghadapi tantangan baru.
Pengetahuan tentang navigasi yang diperolehnya saat bertugas di kapal menjadi dasar yang mendukung proses pembelajaran di bidang penerbangan. Pengalaman tersebut juga membentuk ketelitian dan ketenangan dalam menjalankan tugas.

Bagi seorang prajurit, penempatan di berbagai bidang merupakan bagian dari pengabdian. Setiap tugas memiliki tantangan dan tanggung jawab masing-masing. Andreas berusaha menjalani setiap penugasan dengan penuh kesungguhan.
Menjaga Integritas dalam Pengabdian
Perjalanan Andreas dari keluarga sederhana hingga menjadi perwira penerbang tidak terlepas dari nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil. Kehidupan bersama orang tua yang bekerja keras membentuk sikap disiplin, mandiri, dan pantang menyerah.
Ia memahami bahwa karier militer tidak hanya ditentukan oleh pangkat dan jabatan, tetapi juga oleh integritas serta tanggung jawab dalam menjalankan amanah.
Dalam setiap tahapan kariernya, Andreas berusaha menjaga kepercayaan yang diberikan oleh institusi. Baginya, pengabdian kepada negara harus dijalankan dengan kejujuran dan komitmen.
Menjadi Bagian dari Kekuatan Udara TNI AL

Setelah menyelesaikan pendidikan penerbangan, Andreas memasuki babak baru sebagai perwira penerbang TNI AL. Tugasnya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menerbangkan pesawat, tetapi juga mendukung berbagai operasi dan kegiatan pertahanan matra laut.
Kekuatan udara menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan tugas TNI AL. Pesawat udara dapat digunakan untuk pengamatan, patroli, pengamanan wilayah, pencarian dan pertolongan, serta mendukung operasi militer maupun kemanusiaan.
Dalam menjalankan tugas tersebut, seorang penerbang dituntut memiliki kemampuan profesional, kesiapan fisik, dan ketangguhan mental. Andreas berusaha memenuhi tuntutan tersebut melalui pengalaman dan pembelajaran yang terus dijalaninya.
Karier yang Terus Berkembang
Perjalanan dari navigator menjadi perwira penerbang membuka kesempatan bagi Andreas untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar. Ia kemudian menjalani berbagai penugasan dan mengikuti perkembangan karier di lingkungan TNI AL.
Setiap penugasan menjadi bagian dari proses pembentukan dirinya sebagai prajurit dan perwira. Pengalaman di lapangan memperkaya pemahaman serta meningkatkan kemampuan dalam menghadapi berbagai situasi.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu datang melalui jalan yang telah direncanakan sejak awal. Cita-cita menjadi dokter memang tidak terwujud, tetapi kesempatan menjadi prajurit TNI AL justru mengantarkannya pada pengabdian yang lebih luas.
Ketekunan Menjadi Kunci
Andreas menyadari bahwa perjalanan kariernya tidak berlangsung secara instan. Ada proses panjang yang harus dilalui, mulai dari pendidikan, seleksi, penugasan, hingga pengembangan kemampuan.

Ketekunan, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar menjadi kunci dalam menghadapi setiap tantangan. Ia juga tidak melupakan latar belakang keluarganya yang sederhana.
Dari seorang anak sopir dan karyawati pabrik di Kediri, Andreas mampu menembus keterbatasan dan mencapai pangkat kolonel di lingkungan TNI AL. Perjalanan tersebut menjadi inspirasi bahwa kesungguhan dalam menjalani proses dapat membuka jalan menuju keberhasilan.
Bersambung ke Bagian 3: Menapaki Jenjang Karier dan Mengemban Berbagai Penugasan di TNI AL.

Penulis: Wahyu Surya Putra, S.T.
Kepala Perwakilan Wilayah Jawa Timur sekaligus Penasihat Redaksi MediaInfopol.com
Penasihat Hukum Redaksi: Wahyu Suryo Wibowo, S.H., M.H.
Keterangan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan konfirmasi dan keterangan dari Kolonel Laut (P) Andreas Suko Riyanto, S.H. Penulis memiliki hubungan kekerabatan dengan yang bersangkutan. Keduanya merupakan keturunan dari almarhum Mbah Djotono dan almarhumah Mbah Karsinem serta berasal dari dusun dan desa yang sama di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri.