BENGKULU//Mediainfopol.com/ Doa bersama lintas agama digelar serentak di seluruh Provinsi Bengkulu, Kamis (1/10). Di tengah rentetan bencana yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, ribuan harapan dipanjatkan agar Bengkulu dan Indonesia dijauhkan dari musibah.

Namun, di balik khusyuknya doa, ada pesan yang jauh lebih besar: jangan sampai mitigasi bencana berhenti di langit, sementara persoalan kesiapsiagaan di bumi belum benar-benar tuntas.

Pemerintah Provinsi Bengkulu menyebutnya sebagai “mitigasi langit”ikhtiar spiritual yang berjalan beriringan dengan mitigasi secara fisik.

Gubernur Bengkulu Helmi Hasan mengatakan menghadapi ancaman bencana tidak cukup hanya dengan membangun kesiapan fisik. Menurutnya, manusia juga harus memperkuat hubungan spiritual dan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Kita tidak hanya melakukan mitigasi secara fisik, tetapi juga mitigasi langit. Ikhtiar di bumi harus kita kuatkan dengan doa. Hari ini seluruh umat beragama di Provinsi Bengkulu bersama-sama berdoa sesuai keyakinan masing-masing, memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Bengkulu dan Indonesia diberikan perlindungan, dijauhkan dari bencana, serta masyarakat selalu diberikan keselamatan,” ujar Helmi di Masjid Raya Baitul Izzah Kota Bengkulu.

Pernyataan tersebut menjadi relevan bagi Bengkulu yang memiliki wilayah pesisir dan menghadapi berbagai potensi ancaman bencana. Karena itu, doa memang dapat menjadi penguat spiritual, tetapi tidak boleh menjadi pengganti kesiapan menghadapi bencana.

Doa meminta keselamatan. Mitigasi memastikan masyarakat punya jalan untuk menyelamatkan diri ketika bencana benar-benar datang.

Di sinilah pekerjaan rumah pemerintah menjadi jauh lebih konkret.

Mitigasi di bumi menuntut lebih dari sekadar kegiatan seremonial. Edukasi kebencanaan harus menyentuh masyarakat hingga tingkat paling bawah. Jalur evakuasi harus jelas. Sistem peringatan dini harus berfungsi. Titik kumpul harus diketahui warga. Fasilitas pengungsian harus siap. Aparatur harus memahami prosedur tanggap darurat.

Dan yang tak kalah penting, masyarakat harus tahu apa yang harus dilakukan dalam hitungan menit ketika bencana terjadi.

Sebab, ketika gempa, tsunami, banjir, longsor atau bencana lainnya datang, tidak ada waktu untuk menunggu rapat koordinasi berikutnya.

Jangan Sampai Doa Ramai, Kesiapan Sepi

Helmi menegaskan mitigasi fisik tetap harus berjalan. Pemerintah dan masyarakat, kata dia, harus sama-sama memiliki kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan.

“Mitigasi secara fisik harus terus dilakukan. Masyarakat harus siap, pemerintah harus siap, tetapi kita juga memohon perlindungan kepada Allah SWT. Semua ikhtiar itu kita lakukan bersama,” tegasnya.

Pesan ini sekaligus menjadi tantangan agar istilah “mitigasi langit” tidak berhenti sebagai jargon yang terdengar indah dalam acara keagamaan.

Sebab, ukuran keberhasilan mitigasi bukan seberapa meriah doa digelar, melainkan seberapa siap masyarakat ketika ancaman bencana benar-benar terjadi.

Apakah warga mengetahui jalur evakuasi?

Apakah peringatan dini dapat menjangkau masyarakat?

Apakah pemerintah daerah memiliki skenario evakuasi yang benar-benar dipahami hingga tingkat desa dan kelurahan?

Apakah fasilitas penampungan dan logistik darurat siap digunakan?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang pada akhirnya akan menentukan seberapa kuat Bengkulu menghadapi bencana.

Dengan kata lain, mitigasi langit harus berjalan bersama mitigasi di bumi. Jangan sampai yang satu bergema, sementara yang lain justru tertinggal.

Lintas Agama, Satu Pesan Keselamatan Doa bersama tersebut juga memperlihatkan wajah keberagaman Bengkulu. Umat dari berbagai agama melaksanakan doa di rumah ibadah masing-masing dengan keyakinan dan tata cara masing-masing.

Pesannya sederhana tetapi kuat: keselamatan manusia adalah kepentingan bersama.

Perbedaan agama tidak menghalangi masyarakat untuk bersolidaritas ketika saudara sebangsa di daerah lain sedang menghadapi bencana.

Di Masjid Raya Baitul Izzah, kegiatan diisi dengan buka puasa bersama, salat Magrib berjamaah, salat sunah Awabin dan istigasah.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peluncuran Program Wajib Halal Oktober atau WHO dari MUI Pusat serta tausiah Ustaz Nababan dan Ustaz Derry Sulaiman.

Kisah perjalanan Willie Salim menjadi mualaf juga turut disampaikan dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Ustaz Derry dalam tausiahnya menekankan bahwa ikhtiar manusia tidak boleh dilepaskan dari doa.

“Mitigasi langit itu penting. Kita jangan hanya sibuk mempersiapkan kehidupan dunia, tetapi juga harus mempersiapkan hubungan kita dengan Allah. Ikhtiar lahir dan doa harus berjalan bersama. Mudah-mudahan doa yang dilakukan bersama-sama ini menjadi sebab turunnya pertolongan dan perlindungan Allah untuk Bengkulu dan bangsa Indonesia,” kata Derry.

Jangan Tunggu Bencana Baru Bergerak

Doa serentak di berbagai penjuru Bengkulu seharusnya tidak berakhir ketika acara selesai.

Justru setelah doa dipanjatkan, pekerjaan berikutnya adalah memastikan ikhtiar di bumi benar-benar bergerak.

Pemerintah perlu terus memperkuat edukasi dan simulasi kebencanaan, memperjelas jalur evakuasi, memastikan sistem peringatan dini, memperkuat koordinasi antarlembaga serta meningkatkan kapasitas masyarakat di kawasan rawan.

Sebab bencana tidak mengenal seremoni.

Bencana tidak menunggu pemerintah selesai rapat.

Dan bencana tidak datang setelah semua pihak merasa siap.

Karena itu, momentum doa lintas agama tersebut semestinya menjadi pengingat keras bahwa keselamatan masyarakat tidak cukup hanya diserahkan pada keberuntungan.

Doa harus dipanjatkan. Ikhtiar harus dijalankan. Kesiapsiagaan harus dibuktikan.

Jika “mitigasi langit” adalah ikhtiar meminta perlindungan Tuhan, maka mitigasi di bumi adalah tanggung jawab manusia untuk mengurangi risiko dan menyelamatkan sesama.

Bengkulu membutuhkan keduanya bukan salah satunya.(M.Harus ak)