Bengkulu//Mediainfopol.com/     TNI Angkatan Udara (TNI AU) mempertegas langkah penguatan sabuk pertahanan udara nasional di wilayah barat Indonesia dengan membangun Satuan Radar (Satrad) di Kota Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan. Proyek strategis ini dijadwalkan memasuki tahap peletakan batu pertama (groundbreaking) pada minggu kedua April 2026.

Pembangunan Satrad tersebut menjadi bagian dari strategi besar modernisasi sistem pertahanan udara terpadu TNI AU, khususnya dalam menutup celah pengawasan di kawasan selatan Pulau Sumatra yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.

Kepastian itu disampaikan Komandan Lanud Sri Mulyono Herlambang, Kolonel Pnb Zulkifli Arif Purba, saat bertemu Wakil Gubernur Bengkulu, Mian, Kamis (26/2).

“Hari ini kami menyampaikan rencana pembangunan satuan radar di Bengkulu Selatan. Groundbreaking direncanakan minggu kedua April 2026. Kami berharap dukungan penuh pemerintah daerah agar proses berjalan optimal,” ujar Zulkifli.

Secara geografis, Bengkulu berada di jalur strategis yang menghadap langsung ke Samudra Hindia—salah satu koridor lalu lintas internasional yang padat, baik penerbangan sipil maupun potensi lintasan militer. Wilayah ini juga berada dalam cakupan pengawasan udara barat Indonesia yang terhubung dengan sistem pertahanan nasional terpadu.

Selama ini, penguatan radar lebih terkonsentrasi di titik-titik utama. Kehadiran Satrad di Bengkulu Selatan dipandang akan memperluas jangkauan deteksi dini (early warning system), mempercepat identifikasi objek udara, serta meningkatkan respons terhadap potensi pelanggaran wilayah udara.

Langkah ini sekaligus memperkuat layered air defense system atau sistem pertahanan berlapis yang tengah dikembangkan TNI AU dalam menghadapi dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik yang kian kompleks.

“Keberadaan radar ini akan meningkatkan kemampuan pemantauan dan pengamanan wilayah udara, khususnya Sumatra bagian selatan,” tegas Zulkifli.

Selain mengantisipasi ancaman militer konvensional, pembangunan Satrad juga relevan dalam menghadapi ancaman non-tradisional, seperti pelanggaran wilayah udara, penerbangan ilegal, hingga potensi penyelundupan lintas negara melalui jalur udara.

Integrasi radar Bengkulu nantinya akan terhubung dengan sistem komando dan kendali pertahanan udara nasional, sehingga setiap pergerakan udara dapat terdeteksi dan dianalisis secara real time.

Wakil Gubernur Bengkulu, Mian, menyatakan dukungan penuh terhadap pembangunan fasilitas strategis tersebut. Ia menilai kehadiran Satrad bukan hanya soal pertahanan, tetapi juga penegasan posisi Bengkulu dalam peta strategis nasional.

“Atas nama Gubernur Bengkulu, kami menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh. Groundbreaking akan segera dilaksanakan sebagai bagian dari penguatan sistem pertahanan udara nasional,” ujar Mian.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci kelancaran pembangunan proyek strategis tersebut.

Pembangunan Satrad di Bengkulu Selatan menegaskan komitmen TNI AU dalam menjaga kedaulatan udara NKRI secara menyeluruh, terutama di kawasan barat yang berbatasan dengan jalur internasional strategis.

Dengan beroperasinya radar tersebut nantinya, diharapkan tidak ada lagi blind spot dalam pengawasan udara di kawasan selatan Sumatra, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam menjaga stabilitas dan keamanan wilayah udara di tengah dinamika kawasan global.
(M.Harus ak)