KEDIRI – Mediainfopol.com
Pagi, rumah Kepala Dusun Gadungan Barat di Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, tak seperti biasanya.

Suara panci beradu, tawa pelan, dan aroma masakan menyatu di ruang yang sederhana.

Sejumlah ibu berkumpul, belajar sesuatu yang mungkin tampak sepele, tetapi menyimpan harapan besar: memasak dengan kesadaran gizi.

Pelatihan tata boga yang digelar Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Kediri ini menjadi bagian dari kegiatan nonfisik Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127, hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Kediri dengan Kodim 0809/Kediri.

Program tersebut dirancang untuk menjangkau dapur-dapur rumah tangga sebagai titik awal perubahan kualitas hidup.

Di sudut ruangan, Endang Purwaningsih memperhatikan setiap instruksi dengan saksama.

Kader Posyandu dari Dusun Templek itu mengaku baru pertama kali berhadapan dengan menu yang tidak biasa ia masak sehari-hari.

“Awalnya terasa aneh. Saya belum pernah membuat masakan seperti ini. Tapi lama-lama jadi menarik,” ujarnya.

Bagi Endang, pelatihan ini memberi sudut pandang baru tentang peran dapur dalam menjaga kesehatan keluarga.

Sebagai kader Posyandu, ia memahami bahwa stunting tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga pengetahuan.

“Masakan yang diajarkan ini memang ditujukan untuk mencegah stunting. Itu yang membuat saya tertarik,” katanya.

Pelatihan dipandu oleh chef dari tim Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Disnaker Kabupaten Kediri, Muhammad Ilham.

Ia mengenalkan menu-menu yang menggabungkan nilai gizi dan kreativitas, mulai dari Sate Maranggi daging tuna dengan kentang keju, dimsum dan ayam popcorn, sate lilit dengan sambal matah dan nasi uduk, moci, hingga tom yam dan sushi berbahan daging udang.

“Menu ini disusun agar mudah diterapkan di rumah, bergizi, dan tetap menarik,” tutur Ilham.

Ia menekankan bahwa bahan pangan lokal bisa diolah menjadi hidangan bernilai gizi tinggi jika dipadukan dengan teknik yang tepat.

Namun, pelatihan ini tidak berhenti pada urusan memasak. Di sela kegiatan, para peserta saling bertukar cerita tentang keluarga, anak, dan keseharian mereka.

Dari pertemuan singkat itu, lahir sebuah grup komunikasi yang terus aktif hingga kini.

“Ada grup sendiri sejak pelatihan. Di dalamnya juga ada ibu-ibu katering,” kata Endang.

Grup tersebut menjadi ruang berbagi resep, pengalaman, hingga peluang usaha kecil. Bagi Endang, pertemanan baru ini sama berharganya dengan ilmu memasak yang ia dapatkan.

“Selain tambah pengalaman, juga nambah teman. Siapa tahu nanti bisa membantu ekonomi keluarga,” ujarnya.

Pelatihan tata boga ini menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari hal-hal sederhana.

Dari dapur rumah di Desa Gadungan, pengetahuan tentang gizi, kesadaran akan kesehatan, dan harapan akan kemandirian ekonomi mulai tumbuh perlahan.

Di tangan para ibu, resep bukan lagi sekadar catatan masakan, melainkan jalan kecil menuju masa depan keluarga yang lebih sehat dan berdaya.
(Doc.Dim0809/Kdr/WhyuMip)

By wahyu