Gresik,mediainfopol.com
Salah satu perubahan signifikan dalam sistem PPDB 2025 adalah pengenalan empat jalur penerimaan siswa baru yang lebih komprehensif. Berbeda dengan sistem zonasi yang sebelumnya digunakan, sistem baru ini menawarkan pendekatan yang lebih beragam dan inklusif. Berikut adalah keempat jalur tersebut:

Jalur Domisili: Jalur ini memprioritaskan calon siswa berdasarkan tempat tinggal mereka. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa siswa dapat bersekolah di lingkungan terdekat dari rumah mereka.

Jalur Prestasi: Jalur ini mengutamakan prestasi akademik dan non-akademik calon siswa. Prestasi kepemimpinan, seperti pengurus OSIS atau organisasi lainnya, juga menjadi pertimbangan penting.

Jalur Afirmasi: Jalur ini dirancang untuk memberikan kesempatan lebih besar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dan penyandang disabilitas. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa semua anak memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas.

Jalur Mutasi: Jalur ini diperuntukkan bagi anak-anak yang mengikuti orang tua yang dipindah tugas, serta bagi guru yang mengajar di sekolah tertentu. Jalur ini memastikan bahwa mobilitas pekerjaan orang tua tidak menghambat pendidikan anak.

Namun Viral di beberapa media bahwa Puluhan orang tua calon siswa calon siswa baru mengeluh sulitnya SPMB (sistem penerimaan murid baru) di SMAN 1 Driyorejo. Keluhan orang tua calon siswa baru bukannya tak beralasan, jarak rumah mereka yang dekat dengan sekolah, anak tidak lolos saat mendaftar jalur zonasi.

Dari pantauan wartawan dilapangan, puluhan orang tua calon siswa baru merasa bahwa banyak kejanggalan dalam SPMB tahun ini. Meski berbagai jalur pendaftaran sudah mereka lalui, tetapi anak mereka tetap tidak bisa masuk di SMAN 1 Driyorejo.

“Rumah saya dekat dengan sekolah, tetapi anak saya tidak di terima di sini, tapi anak yang rumahnya jauh dari sekolah malah diterima. Aneh kan???” kata salah satu orang tua calon siswa, Sabtu, 28-6-2025

Dia melanjutkan, bukan hanya dirinya yang merasa terdzolimi, banyak orang tua lain yang merasakannya. Alasan sekolah bermacam-macam, ada yang mengatakan nilai raport juga mempengaruhi dalam memenuhi jalur zonasi.

“Seharusnya sekolah memprioritaskan warga sekitar, bukannya malah warga sekitar banyak yang tidak diterima di sini”, lanjutnya.

Dalam waktu dekat, warga sekitaran sekolah yang anaknya tidak lolos jalur zonasi akan melakukan demo dengan mengerahkan massa yang lebih banyak.

“Kita akan lakukan Demo lagi dengan warga lain”, pungkasnya.

Sementara, Alif Hanifah, Kepala Sekolah SMAN 1 Driyorejo saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya belum menjawab. Hingga berita ini di angkat, belum ada keterangan dari pihak sekolah.

By Man