BOJONEGORO, mediainfopol.com
Senja mulai membayang di Jalan Sendang Bogo, Desa Pacing, Kecamatan Sukosewu. Di pertigaan jalan yang akrab disapa area “Mbah Bogo” itu, puluhan warga berkumpul bukan sekadar untuk menjalankan tradisi, melainkan merajut kembali tali persaudaraan yang tak pernah putus.
Rabu Wekasan menjadi momentum suci bagi warga RT 05 untuk duduk bersila bersama di atas bumi yang mereka pijak. Di bawah panduan hangat Ketua RT 05, Cak Usman (Ngusman), lantunan doa melangit, memohon perlindungan dari segala mara bahaya kepada Sang Maha Kuasa.Selasa 11/08/2026.

Ada keunikan mendalam yang diwariskan para leluhur dalam kenduri ini. Makanan yang dibawa warga menjadi lambang pengharapan, disesuaikan dengan arah rumah yang mereka tinggali:
Rumah menghadap Selatan: Membawa kucur dan klepon.
Rumah menghadap Barat: Membawa ketan dan kucur.
Rumah menghadap Utara: Membawa lontong dan srabeh.
Rumah menghadap Timur: Membawa blendung jagung dan jajan pasar 7 rupa.
Setiap hidangan disimpan dalam jumlah tujuh rupa simbol pitulungan (pertolongan) dari Allah SWT agar setiap niat tulus dan cita-cita warga dikabulkan serta sampai pada tujuan yang baik.
”Kami berdoa bersama memohon keselamatan kepada Allah SWT. Semoga warga diberi kesehatan, rezeki yang lancar, umur panjang, dan tanaman di sawah dijauhkan dari hama agar subur mewangi,” tutur Cak Usman penuh haru.
Di atas hamparan Vafing dan ukiran nat sambungan sederhana, perbedaan melebur menjadi kehangatan. Canda tawa antara sang ketua RT dan warganya membuktikan bahwa di tengah gempuran zaman, guyub rukun dan keharmonisan di RT 05 Desa Pacing tetap berdiri kokoh tak tergoyahkan. Kenduri ini bukan sekadar tolak balak, melainkan cermin tentang betapa indahnya saling menjaga dan mendoakan sesama.
(Moh.Kanafi-mip.com)