Gresik, mediainfopol.com. Tradisi Sedekah Bumi merupakan upacara adat yang melambangkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki, keselamatan, serta keberkahan hidup yang diberikan melalui bumi. Tradisi turun-temurun ini banyak dilestarikan masyarakat agraris dan nelayan di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Tidak sekadar menjadi perayaan, Sedekah Bumi juga menjadi simbol keharmonisan hubungan manusia dengan alam sekaligus sarana mempererat gotong royong dan kebersamaan antarwarga.

Semangat kebersamaan itu tampak dalam kegiatan doa bersama dan selamatan kampung yang digelar warga RW 06 Mirah Delima, Desa Gadung, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, Sabtu malam (6/6/2026), bertempat di Pendopo Balai RW 06 Mirah Delima.

Kegiatan perdana tersebut dihadiri ratusan warga, tokoh masyarakat, serta Kepala Desa Gadung. Acara berlangsung khidmat dengan siraman rohani oleh Ustadz Imam Suheri, S.Ag dari Bambe, Gresik, serta diiringi grup rebana ibu-ibu PKK RT 25 RW 06 Mirah Delima.

Kegiatan yang dikemas dalam konsep selamatan kampung ini direncanakan menjadi agenda tahunan setiap bulan Muharam atau Bulan Suro.
Ketua RW 06 Mirah Delima, Subeki, dalam sambutannya mengaku terharu melihat antusiasme warga yang hadir.

“Tak terduga, panjenengan semua para sesepuh, bapak-bapak, ibu-ibu hingga adik-adik sangat antusias menghadiri acara selamatan kampung ini. Ide ini muncul dari para tokoh dan sesepuh untuk mengungkapkan rasa syukur. Selama ini mungkin yang dikenal di desa adalah sedekah bumi, tetapi tidak ada salahnya kita di perumahan juga mengadakan tasyakuran atau selamatan kampung,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut bertujuan mempererat tali silaturahmi dan menjaga kerukunan antarwarga.

“Kita ini tinggal di RW 06 Mirah Delima bukan satu atau dua tahun. Harapan besar kami, kampung ini menjadi kampung yang guyub, rukun, dan seduluran selawase,” lanjutnya.

Menurutnya, istilah “selamatan kampung” dipilih agar lebih diterima seluruh warga yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kenapa kita buat selamatan kampung, bukan sedekah bumi? Karena penghuni wilayah ini berasal dari berbagai macam daerah, mungkin dari Sabang sampai Merauke. Kalau memakai istilah sedekah bumi seolah-olah hanya budaya Jawa saja. Maka kita gunakan bahasa nasional agar bisa diterima semua warga,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus Sie Rohani RW 06, Didik Purwanto, mengatakan kegiatan tersebut akan dijadikan agenda rutin tahunan.

“Kegiatan ini sebagai bahan evaluasi dan insyaallah akan diteruskan siapapun nanti pengurus Sie Rohani RW. Rencananya dilaksanakan setiap bulan Muharam. Tujuannya sebagai bentuk rasa syukur karena tinggal di Mirah Delima diberikan keselamatan, dijauhkan dari bala, bencana, dan penyakit. Bentuk syukur paling mudah adalah membaca Alhamdulillah dan diwujudkan dengan hidup guyub,” ungkapnya.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan istighosah yang dipimpin langsung oleh Sie Rohani RW 06.
Kepala Desa Gadung, Soewarno, S.Pd.I., dalam sambutannya mengapresiasi kekompakan warga RW 06 Mirah Delima.

“Untuk kali pertama warga RW 06 Mirah Delima yang dikomandani pengurus RW 06 mengadakan kegiatan ini. Beberapa bulan lalu sudah menyampaikan keinginan kepada saya bahwa kegiatan sedekah bumi di Mirah Delima akan dikemas menjadi tasyakuran. Ternyata malam hari ini antusiasme warga sangat luar biasa,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
“Bhineka Tunggal Ika, walaupun berbeda-beda tetap satu juga. Itu ditunjukkan malam hari ini,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Soewarno turut menyinggung pembangunan jalan poros desa yang kini telah dapat dimanfaatkan warga berkat dukungan berbagai pihak.
(Bintarjo)

By Man