BOJONEGORO,mediainfopol.com
Fluktuasi harga gabah kembali membuat resah petani di Kecamatan Sukosewu. Setelah sempat bertahan di kisaran Rp6.600 hingga Rp6.700 per kilogram, harga gabah kini turun tajam menjadi Rp6.300 per kilogram. Penurunan ini terjadi di tengah suasana Bulan Suci Ramadhan, saat kebutuhan rumah tangga justru meningkat.
Sejumlah petani di Desa Pacing mengaku kebingungan menghadapi kondisi pasar yang tidak stabil. Mereka khawatir harga akan kembali merosot saat memasuki pertengahan Ramadhan, momentum yang biasanya diiringi lonjakan kebutuhan ekonomi keluarga.

“Rego gabah munggah-medun, ojo-ojo pertengahan poso malah anjlok maneh,” keluh Pardi, seorang petani, saat berbincang di warung kopi Mbok Gendut. Ungkapan itu menggambarkan kegelisahan petani terhadap harga yang sulit diprediksi.
Hal senada disampaikan Agus Kuprit. Ia berharap harga gabah bisa kembali menguat agar petani tidak merugi setelah melalui masa tanam dan perawatan yang membutuhkan biaya besar. “Mugo-mugo iso pangkreng regone, ojo nganti medun maneh,” ujarnya penuh harap.
Turunnya harga gabah ini dinilai cukup memberatkan, terlebih sebagian petani masih membutuhkan dana untuk biaya tanam berikutnya. Jika harga terus melemah, margin keuntungan bisa tergerus bahkan berpotensi merugi.Hari Kamis 19 Februari 2026.
Perbincangan mengenai anjloknya harga gabah kini menjadi topik utama di berbagai sudut desa, mulai dari sawah hingga warung kopi. Para petani berharap ada stabilisasi harga agar hasil panen mereka tetap memiliki nilai jual yang layak dan mampu menopang kebutuhan keluarga selama Ramadhan.
(Moh.Kanafi-mip.com)