Bojonegoro,mediainfopol.com
Senyum dan semangat mulai kembali menghiasi wajah para petani. Memasuki masa Panen Raya, harga gabah yang menyentuh Rp 6.500 per kilogram menjadi kabar menggembirakan, setelah bertahun-tahun petani berjibaku dengan biaya tanam yang terus meningkat.
Di Desa Pacing, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, hamparan sawah tampak hidup. Mesin panen kombin (kombi) mulai beroperasi di berbagai titik, menandai dimulainya panen padi secara serentak. Panen kali ini terasa berbeda—lebih ringan, lebih optimistis.
Hasil panen perdana dinilai cukup menjanjikan. Selain mampu menutup biaya tanam sebelumnya, petani juga masih memperoleh keuntungan untuk mempersiapkan musim tanam berikutnya. Kondisi ini menjadi angin segar di tengah kekhawatiran petani terhadap fluktuasi harga gabah.

“Wong tani niki rumangso seneng. Regone gabah mbanding taun wingi luwih apik. Saiki Rp 6.500 wes lepas kombi, ora bayar,”
ungkap Yatno, salah satu petani setempat, Rabu (11/2/2026).
Menurutnya, kenaikan harga gabah sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan petani. Beban produksi yang selama ini menghimpit, kini sedikit terurai. Petani pun kembali memiliki harapan bahwa bertani masih layak untuk diperjuangkan.
Panen Raya ini bukan sekadar soal hasil padi, tetapi juga tentang harapan, keberlanjutan, dan martabat petani. Di tengah tantangan iklim dan biaya produksi, harga gabah yang stabil dan berpihak menjadi kunci menjaga semangat petani tetap menyala.
Dengan Panen Raya yang mulai menggeliat, petani Bojonegoro berharap kebijakan harga gabah terus berpihak pada mereka, agar sawah tetap hijau dan lumbung pangan daerah tetap terjaga.
(Moh.Kanafi-mip.com)